Karena satu ide yang ditulis jauh lebih baik daripada sejuta ide di angan-angan.

Jumat, 18 April 2014

Alasan Kenapa Saya Dukung Prabowo (Edisi tulisan dari non-selebtweet)

DOR !!! *kagetin*

Setelah idle selama hampir 2 taun, akhirnya gw nulis lagi di blog ini.. :D

Kira-kira beberapa hari yang lalu timeline saya sempet heboh sama tulisan berjudul Logika Bebal Zarry Hendrik. Nah ada yang menarik di sini, sampe akhirnya saya merasa ada suatu pendapat yang ingin saya sampaikan lewat tulisan.

Oh iya, sebelumnya ijinkan saya memperkenalkan diri terlebih dahulu. Saya cuma orang biasa banget-banget-banget, ngga pernah kuliah di jurusan ilmu politik, ngga pernah officially baca buku-buku teori politik, dan saya juga bukan seorang selebtweet. Semoga kalian masih berminat membaca tulisan dari seseorang yang relatif drama-less apalagi twitwar-less sih yaa.. :)

Mas Arman Dhani memang menawarkan latar belakang beliau yang begitu WOW untuk memperkuat pendapatnya, itu hak beliau atas apa yang sudah beliau pelajari dan geluti selama di bangku perkuliahan ilmu politik.  Sedangkan di sini saya mencoba menyampaikan opini pribadi sayasebagai seseorang yang Alhamdulillah bisa baca-tulis, Alhamdulillah pernah beli koran, dan kebetulan sekarang sudah bisa internetan. :D



Well, menurut saya dukung-mendukung capres itu mirip dengan memilih Keyakinan (Agama, kalo istilah ini dinilai kurang luas maknanya). Situ berhak memilih siapa yang situ anggap PALING benar, paling bisa memberikan HOPE buat situ, dan pada akhirnya ..... mana yang situ anggep PALING cocok sama situ meskipun semua orang sedunia bilang tidak.

PALING benar itu tidak sama dengan benar. Ada unsur relativitas di situ.
Mungkin cuma ada nol-koma-nol-sekian-persen dari populasi sedunia ini yang bisa disebut sebagai orang benar, alias tidak pernah melakukan kesalahan sama sekali dalam hidupnya. Sedangkan atribut PALING benar itu lebih realistis karena penilaian dilakukan secara relatif dari beberapa orang yang sedang dibandingkan.

*****

Mungkin sedikit menyimpang dari judul, pada bagian ini saya hanya ingin menyampaikan pandangan pribadi saya tentang issue yang sedang santer-santernya dihembuskan tentang Prabowo Subianto. :)

Akhir-akhir ini di timeline sayamakin marak tulisan yang menyudutkan Prabowo sebagai penanggung jawab penculikan oleh tim mawar di akhir-akhir masa pemerintahan orde baru. Sungguh, saya sangat bersimpati dengan para korban, keluarga korban, serta semua orang yang ditinggalkan. Sungguh, saya pun tidak membenarkan atas penculikan-penculikan aktivis 98 tersebut.

Namun ... , tanpa mengurangi rasa hormat dan simpati saya kepada para korban penculikan beserta keluarga, di sini perlu diingat kembali bahwa pengakhiran masa tugas Danjen Kopassus Letjen Prabowo Subianto oleh Dewan Kehormatan Perwira TNI AD  pada waktu  itu adalah karena ketidak-mampuan mengetahui kegiatan bawahannya.

Sekali lagi, saya sangat bersimpati dengan para korban penculikan, namun menurut pendapat saya, ada baiknya kita juga menghormati hak tidak-bersalah-secara-hukum orang lain sebelum lembaga hukum negara memutuskan orang tersebut bersalah. Negara ini adalah negara hukum, jadi ada baiknya kita secara bersama-sama menghormati hukum di negeri ini.

Mengenai siapa yang menyuruh tim mawar melakukan penculikan tersebut, saya rasa tidak bisa asal tuduh begitu saja. Diperlukan penyelidikan lanjut oleh aparat yang berwenang dan tentu saja putusan pengadilan. Bukankah asal tuduh itu bisa jadi bentuk kriminalisasi, yang akhir-akhir ini ramai dibicarakan publik?
Saya tidak sedang membicarakan kemungkinan konspirasi penguasa, menurut anda apakah tidak mungkin kriminalisasi yang pernah menimpa Bibit - Chandra juga bisa menimpa Prabowo?

Lagipula, taukah ada bahwa Presiden RI adalah Panglima tertinggi dari Tentara Nasional Indonesia?

Menurut UUD 1945 Bab XII pasal 30, TNI terdiri atas Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara sebagai alat negara yang bertugas untuk mempertahankan, melindungi, dan memelihara keutuhan dan kedaulatan negara.

Sekali lagi perhatikan: TNI - bertugas - mempertahankan - melindungi - memelihara - keutuhan - kedaulatan - negara.

Dengan tanpa bermaksud membenarkan aksi penculikan aktivis 98, Saya ingin menyampaikan pandangan dari sisi yang lain, bahwa pada waktu itu sudah menjadi kewajiban anggota TNI untuk mengamankan kedaulatan dan keutuhan negara ..... at any cost. :(

Kebetulan saya besar di keluarga tentara dan pernah beberapa hari mengikuti pelatihan dasar kemiliteran di Rindam Jaya. Dari situ saya mengenal Wawasan Nusantara dan istilah NKRI harga mati. Bisa dibilang NKRI harga mati ini adalah tugas utama, kewajiban, amanah, dan kalo saya pribadi mengartikan istilah tersebut adalah nafas dari setiap insan tentara dari pangkat paling bawah sampai pangkat paling tinggi. Boleh di-cek, di setiap unit militer khususnya TNI, pasti akan dengan mudah kita temukan tulisan NKRI harga mati terpampang besar-besar di setiap sudutnya.

Pada akhir-akhir masa pemerintahan orde baru, kebetulan pada masa itu saya sudah cukup umur untuk berpikir, Republik Indonesia sedang dalam situasi yang sangat sulit. Harga-harga mahal, cari apa-apa susah, situasi mencekam, issue teror "ninja", sampai kerusuhan dimana-mana. To be honest, pada waktu itu yang saya takutkan bukan oknum tentara, melainkan sekumpulan oknum massa jahat yang menggila, yang menjarah milik orang lain, yang tega memangsa sesama manusia secara membabi buta. Saya takut, sungguh sangat takut.

Saya tidak tau pasti apakah mereka itu sungguh-sungguh oknum massa jahat yang going mad akibat terlalu lama memendam hasrat birahi kebebasan yang seolah mendapat angin di tengah turbulensi politik antara tirani Orde Baru dengan rakyat, ataukah mereka itu bagian dari rekayasa penguasa pada waktu itu sebagai pengalihan isu semata. Saya tidak tau, tapi yang pasti yang saya rasakan adalah negara tidak aman.

Mungkin, ketakutan tersebut bukan cuma saya yang merasakan. Bisa jadi ketakutan tersebut juga dirasakan oleh sekian-koma-sekian-persen dari 200 juta warga negara Indonesia di seluruh nusantara pada waktu itu. Kumpulan ketakutan akan ketidak-amanan negara tersebut bisa dianggap pertanda yang ditengarai sebagai klaim bahwa situasi negara sedang tidak aman, dan memberikan legitimasi kepada tirani penguasa pada waktu itu untuk melakukan "pengamanan kedaulatan negara".

Entah, sekali lagi entah, apakah situasi darurat negara itu sebenarnya adalah settingan dari tirani penguasa pada waktu itu ataukah hal tersebut terjadi secara alamiah, yang pasti Presiden Soeharto, sebagai Panglima Tertinggi TNI, sah-sah saja untuk memerintahkan pasukannya melakukan tindakan dalam rangka menjaga kedaulatan NKRI.  Ya, meskipun menurut saya, hal tersebut bisa saja cuma dalih dari penguasa untuk mempertahankan kekuasaanya .... at any cost. :(

Sebagai alat pertahanan negara dan sebagai prajurit dari Sang Panglima tertinggi (Bintang Lima pula!), serta dengan dalih tugas mengamankan kedaulatan NKRI, tentara manakah yang bisa menolak perintah pada waktu itu? :(

Saya tidak mengajak situ untuk mengiyakan pendapat saya, saya cuma ingin mengajak situ melihat secara helicopter view, mangamati masalah secara heuristic. Kali ini coba deh situ melihat ini bukan dari sisi moral. Coba ambil sudut pandang dari sisi kedinasan militer Prabowo Subianto pada waktu itu.

Dengan tanpa mengurangi rasa simpati saya pada korban penculikan aktivis 98, Pada waktu itu belum ada KOMNASHAM atau lembaga semacamnya atau Undang-undang yang melindungi Hak Asasi Manusia di Indonesia, that was Orde Baru. TNI disalah-gunakan menjadi alat negara untuk melindungi kekuasaan tirani, dengan dalih menjaga kedaulatan NKRI. walaupun memang sejarah juga mencatat di Orde Lama ada banyak pemberangusan kelompok lain yang berseberangan dengan pemerintah, sebut sajapada pemberontakan DI/TII, Pemberontakan Muso, Pemberontakan Andi Aziz, Pemberontakan Republik Maluku Selatan, dsb.

Kalo bicara moral, hal tersebut tidak bisa dibilang pemberontakan, melainkan aksi sekelompok manusia Indonesia yang tidak sejalan dengan pemerintahan.

Kalo bicara moral, aksi militer pada waktu itu tidak bisa dibilang penyelamatan negara, melainkan aksi pembungkaman, penculikan, dan pembunuhan massal.

Kalo bicara moral, pelaku pemberontakan tidak bisa dibilang musuh negara, melainkan korban pelanggaran HAM.

Kalo bicara moral, pelaku operasi militer tersebut tidak bisa dibilang sebagai pahlawan, melainkan jagal-jagal sadis yang tega membangsa saudara se-bangsanya sendiri.

Bukan saya bermaksud membenarkan aksi penculikan 98, saya cuma ngajak situ untuk berpikir secara obyektif ..... TNI pada waktu itu was just a blunt instrument yang disalah-gunakan oleh tirani pemerintah.

Bukan saya mendukung aksi represif oleh aparat negara pada waktu itu, saya cuma berharap situ bisa memahami bahwa tragedi tersebut adalah murni kesalahan sistemik. Semoga anda cukup obyektif untuk tidak meletakan kesalahan sistemik kepada individu-individu secara personal.

Hate the system, not the instrument. Kalaupun tetap harus ditemukan individu untuk disalahkan, salahkan orang di puncak sistem tersebut. Siapa panglima tertinggi TNI waktu itu?

Memang, bangsa ini pernah mencatat sejarah-sejarah kelam. Saya sangat berharap kedepannya negara ini bisa memiliki sistem yang lebih baik, terutama cara penguasa menjalankan alat-alat militer negaranya.

Saya memiliki keyakinan bahwa Prabowo adalah orang yang mampu memperbaiki sistem negara tersebut. Menurut saya, sebagai mantan prajurit yang pernah disalah-gunakan oleh penguasa, kesempatan ini akan digunakan beliau untuk menjadi pemimpin yang lebih baik.

Menurut saya beliau sudah menepati sumpahnya sebagai prajurit TNI untuk setia pada NKRI dengan tidak melakukan kudeta. Menurut saya, seorang pemimpin (apalagi laki-laki) yang dipegang itu adalah janjinya. Kalo pemimpinnya lupa sama janjinya sendiri, apa yang bisa kita harapkan? bukan nyindir lhoo yaaaa... :D

15 tahun sudah berlalu, saya rasa setiap individu termasuk Prabowo Subianto berhak untuk berubah, berhak untuk bertobat, dan berhak untuk memperbaiki kesalahannya. Orang yang mau memperbaiki diri  ini jauh-jauh-jauh lebih baik daripada orang yang baru 1,5 tahun bersumpah tapi sudah mengingkari. :)

PRIIITTTTT...!!! *disemprit KPU*

Akhir kata, saya sudah tau siapa yang akan saya pilih sebagai Presiden RI berikutnya.
Saya dukung Prabowo Subianto, saya tidak malu mendukung beliau.
SAYA TIDAK DIBAYAR UNTUK MENULIS INI.
I DONT SELL MYSELF.

... karena saya sangat ngeri sama Capres yang pencitraan dimana-mana, bangun tidur berangkat kantor  nonton konser minum kopi saja masuk media massa. Bahkan pencitraan sampai masuk ke soal UN. itu pencitraan-pencitraan biayanya berapa duit?

Nothing is free in this cruel world, you pay a lot of money, you will want more payback.

Payback duitnya dari mana?
Korupsi?
Jual aset negara (lagi) ?


Sampai ketemu lagi di tulisan saya yang lain. :)

Salam Indonesia Raya,
Cak Ipho
-bukan selebtweet-

1 komentar:

utk kirim komentar sertakan alamat email yah sob... keep contact... :)